Beranda > Renungan, Wacana > Menyarjanakan Seluruh Guru

Menyarjanakan Seluruh Guru


* Oleh Agus Munif

DIREKTUR Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Prof Baedhowi, menyatakan hanya 1.043.000 guru bergelar sarjana dari keseluruhan guru sebanyak 2.607.311 orang. Jadi 1.564.311 guru (60%), terutama di pedesaan, belum lulus D4 atau S1. Kondisi itu bertentangan dengan standar mutu nasional yang mensyaratkan guru harus lulusan S1.

Namun itulah fakta di sektor pendidikan hingga sekarang ini. Padahal, tugas guru amat vital, yakni membangun generasi penerus yang lebih unggul. Guru yang kurang berkualitas tentu sulit melahirkan murid berkualitas.

Saya tak bermaksud mendiskreditkan ”kualitas alami” guru yang belum sarjana. Kita tahu ada beberapa guru berkualitas pendidik, meski bukan sarjana. Namun alangkah baik jika seluruh guru sarjana. Lagipula, Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan hal itu.

Kita pun berharap, peningkatan jenjang akademis guru berimbang dengan peningkatan mutu keilmuan. Jangan sampai status sarjana sekadar formalitas, tanpa kualitas penguasaan ilmu memadai. Semoga kisah tentang guru S1 yang tak becus mendidik tak terjadi lagi pada masa kini dan mendatang.

Berkait dengan program penuntasan sebagian besar (60%) guru yang belum sarjana, ada beberapa hal bisa ditempuh. Pertama, pemerintah harus membuat kebijakan swadaya khusus; pemerintah pusat dan daerah membantu biaya kuliah guru.

Bantuan bisa berupa pengadaan kampus khusus bagi guru atau sekaligus menambah peluang beasiswa seluas-luasnya. Kedua, program pengakuan pengalaman kerja dan hasil belajar Depdiknas seyogianya dipermudah agar guru dapat meraih S1 dengan pertimbangan masa kerja dan prestasi.

Ketiga, sosialisasi lebih masif dan membuka kesempatan kuliah di daerah terpencil. Pemangku kepentingan dunia pendidikan (seperti staf pengajar, dinas lokal, dan aparatur) harus ”turun gunung” untuk menyarjanakan guru. Birokrasi pun mesti dipermudah.

Keempat, peningkatan program penyebaran guru. Itu akan memacu pemerataan guru sarjana. Guru di pedesaan dapat dialih tugaskan ke perkotaan agar lebih mudah mengakses perguruan tinggi.

Sebaliknya, guru di perkotaan diterjunkan ke daerah sesuai dengan periode tertentu. Pemerintah sepatutnya menjamin insentif dan fasilitas yang memadai agar program penyebaran guru berlangsung lancar.

Sesungguhnya banyak langkah bisa diperbuat untuk menyarjanakan semua guru. Itu juga untuk meningkatkan kualitas pendidikan. (53)

— Agus Munif SHI, guru SMP Syahrohaniyah Meteseh, Semarang

Kategori:Renungan, Wacana Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: