Beranda > Renungan > Tentang Sekolah

Tentang Sekolah


Sudah lama dia ingin mengatakan banyak hal. Tapi, tak ada yang mengerti.
Sudah lama dia ingin menjelaskan banyak hal. Tapi, tak ada yang peduli. Karena itu ia menggambar saja.
Kadang-kadang dia hanya mau menggambar dan gambar itu bukan apa-apa.
Dia ingin mengukirnya di atas batu, atau menuliskannya di langit.
Dia akan berbaring di rumput dan menatap langit, hanya dia bersama langit serta semua yang ada didalam jiwanya yang butuh diutarakan.

Dan setelah itu, barulah ia menggambar. Sebuah gambar yang indah.
Dia menyimpannya di bawah bantal dan tidak menizinkan siapa pun untuk melihatnya.
Dan, dia akan memandangnya setiap malam dan memikirkannya.
Dan gambar itu, semua tentang dirinya. Dan, dia sangat menyukainya.
Ketika berangkat sekolah, dia selalu membawanya.
Bukan untuk memperlihatkannya kepada seseorang, malainkan sekedar merasakannya berada di dekatnya seperti kawan.
Lucu rasanya tentang sekolah ini. Dia duduk di bangku kotak berwarna cokelat.
Sama seperti bangku kotak dan cokelat lainnya, padahal menurutnya seharusnya merah.
Dan, kelasnya juga bebentuk kotak dan berwarna cokelat.
Seperti semua kelas lainnya. Dan, itu tampak pengap dan tertutup, juga kaku.
Dia benci harus memegang pensil dan kapur, dengan lengan kaku dan kaki menapak di lantai, juga kaku, sementara guru terus menerus mengawasi.
Kemudian, dia harus menulis angka-angka. Padahal, angka-angka itu bukan apa-apa.
Mereka lebih buruk daripada huruf-huruf yang jika digabungkan bisa memberi makna.
Sedangkan angka-angka itu jelek dan kotak dan dia membenci semua itu.
Bu guru datang dan berbicara kepadanya, menyuruhnya memakai dasi seperti anak-anak lelaki yang lain.
Dia bilang tidak suka, dan bu guru bilang itu tak masalah.
Setelah itu mereka menggambar. Dan, dia menggambar warna kuning semuanya karena begitulah yang dirasakannya tentang pagi hari.
Dan, gambarnya indah sekali. Bu guru datang lalu tersenyum kepadanya.
“Apa ini?”, tanyanya. “Mengapa kamu tidak menggambar seperti gambar Kent?
Bukankah gambar itu bagus?” Semuanya petanyaan.
Setelah itu, ibunya membelikan dasi untuknya dan dia selalu menggambar pesawat terbang dan roket seperti yang digambar anak-anak lainnya.
Maka, dia pun membuang gambar yang lama.
Dan, ketika dia berbaring sendirian memandang langit yang tampak besar dan biru, dan semuanya terlihat sama, kecuali dirinya yang tidak lagi sama.
Dia sudah menjadi kotak di dalam dan juga cokelat, dan kedua tangannya kaku, dan dia menjadi seperti anak-anak lainnya.
Dan, sesuatu yang ada di dalam dirinya yang tadinya butuh untuk diutarakan, kini tidak perlu diutarakan lagi.
Sesuatu itu telah berhenti mendesaknya. Hancur. Kaku.
Seperti yang lain-lainnya juga.

===============
(diyakini bahwa siswa remaja yang telah menulis puisi ini, bunuh diri dua minggu kemudian)
Sumber: The Power of Learning Styles, Barbara Prashnig.

Kategori:Renungan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: