Beranda > Manajemen Sekolah > Mengkatalis Guru Pemula dengan Program Induksi

Mengkatalis Guru Pemula dengan Program Induksi


Oleh : Abdul Ghafur, ST
(Staf Subdit Program Direktorat Tenaga Kependidikan, PMPTK Depdiknas)

Satu lagi terobosan baru di tahun 2009 ini, dunia pendidikan nasional mendapatkan sebuah program baru untuk meningkatkan mutunya. Terobosan tersebut adalah program induksi bagi guru pemula pada semua jenjang dan status. Sistem itu adalah sesuatu yang baru dalam sistem pendidikan nasional kita dibanding dengan negara lain di kawasan Asia Pasifik. Ditengarai bahwa ketiadaan sistem induksi ini menjadi salah satu penyebab rendahnya kualitas guru di Indonesia.

Sistem induksi merupakan suatu sistem yang memberi kesempatan kepada guru pemula untuk dapat memahami tugas pokok dan fungsinya sebagai guru dengan bimbingan dari seorang mentor. Selama masa induksi ini guru bersama mentor melakukan diskusi dan perbaikan terhadap rencana-rencana pembelajaran yang dikembangkan oleh guru pemula.

Pada akhir masa induksi ini guru pemula akan dinilai kinerjanya oleh kepala sekolah dan pengawas untuk menentukan kelayakan guru pemula tersebut. Hasil penilaian ini akan mempengaruhi karir guru pemula tersebut.

Konsep induksi sebagai sebuah sistem perlu mendapatkan pemikiran yang luas dari stakeholder pendidikan agar pada implementasinya dapat berjalan dengan baik. Hadirnya kebijakan yang menaungi sistem ini diharapkan dapat menjadi pegangan dalam pelaksanaan induksi. Selain kebijakan perlu pula dukungan modul agar memudahkan guru pemula, kepala sekolah, pengawas sekolah, guru mentor, dan pihak lainnya memahami konsep induksi serta penilaiannya secara komprehensif.

Direktorat Tenaga Kependidikan merupakan salah satu satuan kerja pada BERMUTU Project pada Ditjen PMPTK. Salah satu kegiatan yang diusung adalah pengembangan sistem induksi dan penilaian kinerja bagi guru pemula. Kegiatan ini merupakan bagian dari komponen 2.4 yang tercantum dalam Project Operational Manual (POM) BERMUTU.

Berdasarkan tugas itulah kemudian disusun perencanaan untuk memulai mengembangkan sistem induksi dan penilaian kinerja guru pemula. Sebagai langkah strategis adalah mendatangkan konsultan internasional untuk induksi. Hal ini dilakukan karena Indonesia belum memiliki pengalaman mengenai konsep dan implementasi sistem induksi. Indonesia adalah negara yang belum memiliki sistem induksi guru di kawasan Asia-Pasifik. Konsultan ini menyusun naskah akademik yang menjadi dasar bagi pengembangan sistem induksi ini.

Kegiatan pengembangan sistem induksi dan penilaian kinerja bagi guru pemula ini ditekankan pada dua hal, yaitu penyusunan kebijakan sistem induksi dan penilaian kinerja guru pemula serta penyusunan manual/modul induksi dan penilaian kinerja guru pemula. Dengan naskah akademik dan kertas kerja yang dimiliki selanjutnya perlu diperkaya dengan adanya berbagai masukan, ide, serta saran untuk mendudukkan konsep induksi ini ke dalam khasanah ke-Indonesia-an. Karena perlu disadari bahwa apa yang disajikan oleh konsultan baik dari naskah akademik dan kertas kerja yang dibuat belum seluruhnya mencerminkan pola pikir, budaya, dan sistem pendidikan di Indonesia.

Saat ini, melalui usaha marathon, Direktorat Tenaga Kependidikan telah melahirkan sebuah rancangan awal kebijakan, petunjuk teknis, dan panduan kerja penilaian kerja guru pemula. Melalui kebijakan akan dihasilkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) sehingga akan memayungi daerah untuk melaksanakan program tersebut. Melalui petunjuk teknis maka akan diperjelas bagaimana mengejawantahkan permendiknas tersebut. Dan melalui panduan kerja program induksi ini akan semakin lengkap dan sempurna dalam pengejawantahannya.

Dapat disimpulkan bahwa program ini sebenarnya ingin menempatkan kembali tanggung jawab guru senior, kepala sekolah, pengawas sekolah, bahkan kalangan birokrat pendidikan dalam membina guru pemula. Guru pemula harus segera mendapatkan perlakukan khusus dalam perjalanan pengabdiannya. Selama ini banyak terjadi dimana guru senior merasa mendapatkan waktu istirahat dan bebas tanggung jawab mengajar ketika datang guru pemula.

Memang, seandainya guru pemula tidak mendapatkan bimbingan, guru pemula akan tetap menemukan keprofesionalannya. Tapi mungkin akan menemukan waktu yang panjang sekali. Sangat berbeda jika ia diberikan bimbingan. Jadi, meminjam istilah ilmu kimia, program ini adalah sebuah katalisator untuk mempercepat proses pematangan profesi guru pemula sehingga siap untuk memberikan pengabdian terbaiknya. Oleh karena itu, ada baiknya kita ucapkan: “Selamat Datang Program Induksi Guru Pemula”.

  1. slamet mulyana
    30 Desember 2009 pukul 10:10

    Mau mengubah pola ngajar para guru di Indonesia, harus dimulai dengan komitmen guru senior (lama)untuk mau ngajar sebagaimana yang dituntutoleh Sisdiknas pasal 40 dan permendiknas no.41 ttg. Standar Proses. Sebab, guru baru pasti sangat dipengaruhi oleh kondisi dan situasi pembelajaran yang berlaku yang dibentuk oleh guru lama.Maka guru lama harus mau berkomitmen dan secara sadar mau melakukan perubahan cara ngajar. Bila ini tidak terjadi, maka mustahil terjadi perubahan situasi sekolah Walaupun guru baru berindiksi. Gitu lo mas.

    • N.A. Suprawoto
      30 Desember 2009 pukul 21:35

      Terima kasih atas komentarnya, dan komentar Anda sangat baik dan logis. Saya sangat sependapat dengan isi komentar Anda. Semoga sukses.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: