Beranda > Pembelajaran > Kesulitan Belajar Membaca

Kesulitan Belajar Membaca

Oleh : Mulyono Abdurrahman, Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ)

Pengertian
Kesulitan belajar membaca sering disebut disleksia (dyslexia). Kata tersebut berasal dari bahasa Ynani yang berarti “kesulitan membaca” maksudnya kesulitan mengenali kata dan membunyikan komponen-komponen kalimat. Bebarapa ahli menyebut kesulitan membaca dengan istilah lain misalnya corrective readers dan remedial readers (Hallahan, kauffman, & Lloyd, 1985: 202). Istilah untuk kesulitan membaca dengan tingkat yang berat menurut Lerner (1981 : 295) disebut aleksia (alexya).

Dalam dunia kedokteran istilah dialeksia dikaitkan banyak dikaitkan dengan adanya gangguan fungsi neurofisiologis. Seperti pendapat Bryan dan Bryan yang dikutip oleh Mercer (1979 : 200) mendefinisikan bahwa dialeksia merupakan sindroma kesulitan dalam mempelajari komponen-komponen kata dan kalimat, mengintegrasikan komponen-komponen kata dan kalimat, dan dalam belajar segala sesuatu yang berkaitan dengan waktu, arah dan masa. Pengertian tentang disleksia atau kesulitan belajar membaca sangat bervariasi, tetapi semua menunjukkan adanya gangguan pada fungsi otak.

Karakteristik
Menurut Mercer (1983: 309) ada empat kelompok karakteristik kesulitan belajar membaca, yakni yang berkenaan dengan (1) kebiasaan membaca, (2) kekeliruan mengenal kata, (3) kekeliruan pemahaman, dan (4) kekeliruan serbaneka.
Anak berkesulitan belajar membaca sering memperlihatkan sikap-sikap kebiasaan membaca yang tidak wajar antara lain adanya gerakan-gerakan yang penuh ketegangan seperti mengernyitkan kening, gelisah, irama suara yang meninggi, atau berkali-kali menggigit bibir. Mereka juga sering menunjukkan perasaan tidak aman dengan memperlihatkan perilaku menolak untuk membaca, menangis, atau mencoba melawan guru.

Anak berkesulitan membaca sering mengalami kekeliruan dalam mengenal kata. Kekeliruan jenis ini mencakup kehilangan, penyisipan, penggantian, pembalikan, salah ucap, pengubahan tempat, tidak mengenal kata, dan tersentak-sentak. Gejala penghilangan kata tampak misalnya ketika anak disuruh membaca kalimat “Kain putih bersih” dibaca “Kain bersih”. Penyisipan terjadi jika anak dihadapkan suatu bacaan kemudian menambahkan kata yang sebenarnya tidak ada dalam bacaan tersebut. Jika anak dihadapkan bacaan “Ayah pergi berbelanja ke pasar”, oleh anak dibaca “Ayah dan Ibu pergi berbelanja ke pasar”. Penggantian terjadi jika anak mengganti salah satu kata pada kalimat bacaan. Misalnya bacaan “Ini buku Kakak” dibaca “Ini buku Bapak”. Pembalikan akan nampak ketika anak membaca “ibu” menjadi “ubi” dan kesalahan ucap terjadi ketika anak membaca “namun” tetapi dibaca “namum” atau “nanum”. Gejala pengbahan tempat terjadi seperti membaca “Ibu pergi ke pasar” dibaca “Ibu ke pasar pergi”. Gejala keraguan nampak pada saat anak berhenti membaca suatu kata dalam kalimat karena tidak dapat membaca kata tersebut.
Gejala kekeliruan memahami bacaan nampak pada banyaknya kekeliruan dalam menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan isi bacaan, tidak mampu mengemukakan urutan cerita yang dibaca, dan tidak mampu memahami tema utama dari suatu cerita. Gejala serbaneka nampak seperti membaca kata demi kata, membaca penuh ketegangan, dan nada tinggi, dan membaca dengan intonasi yang tidak tepat.

Beberapa ciri anak berkesulitan belajar membaca menurut Vernon sebagai berikut:
1. memiliki kekurangan dalam diskriminasi penglihatan
2. tidak mampu menganalisis kata menjadi huruf-huruf
3. memiliki kekurangan dalam memori visual
4. memiliki kekurangan dalam melakukan diskriminasi auditoris
5. tidak mampu memahami simbol bunyi
6. kurang mampu mengintegrasikan penglihatan dengan pendengaran
7. kesulitan dalam mempelajari asosiasi simbol-simbol iregular (khusus yang berbahasa Inggris)
8. kesulitan dalam mengurutkan kata-kata dan huruf-huruf
9. membaca kata demi kata
10. krang memiliki kemampuan dalam berfikir konseptual

Beberapa ahli berpendapat bahwa berbagai kesalahan membaca antara lain:
1. penghilangan kata atau huruf
2. penyelipan kata
3. penggantian kata
4. pengucapan kata salah dan makna berbeda
5. pengucapan kata salah tetapi makna sama
6. pengucapan kata salah dan tidak bermakna
7. pengucapan kata dengan bantuan guru
8. pengulangan
9. pembalikan kata
10. pembalikan huruf
11. kurang memperhatikan tanda baca
12. pembetulan sendiri
13. ragu-ragu dan tersendat-sendat

*****

  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.